Title: #NLS “Princess Nose And True Love” {Part 13}
Author: @Fathimah_Haddad , @FathimHaddad501 aka Syarifah Fathimah AlHaddad
Genre: Romantic
Rating: G (General)
Cast: - @NiallOfficial as Niall Horan
- @SherineCArifa as Sherine Arifa
- @OfficialTL as Taylor Lautner
- @christiemburke as Christie burke
- And other boys of @OneDiretion {Louis, Zayn, Liam, and Harry}
Cameo: - @ddlovato as Demi Lovato
Author: @Fathimah_Haddad , @FathimHaddad501 aka Syarifah Fathimah AlHaddad
Genre: Romantic
Rating: G (General)
Cast: - @NiallOfficial as Niall Horan
- @SherineCArifa as Sherine Arifa
- @OfficialTL as Taylor Lautner
- @christiemburke as Christie burke
- And other boys of @OneDiretion {Louis, Zayn, Liam, and Harry}
Cameo: - @ddlovato as Demi Lovato
|Welcome to my Imagination|
Hope you like this guys ;)
~NLS~
_Sherine
pov_
“Curly?”. Tanyaku tak percaya, melihat sebuah wig di
tanganku yang mengingatkanku pada rambut Daniele kekasih Liam. Hanya
saja yang ditanganku ini tak terlalu lebat dan berwarna hitam,
sehitam rambutku dulu sebelum 'ritual' itu membunuhnya sampai habis.
“yup! Lucu tidaak? Maaf, wig yang kau minta tak ada
yang berwarna hitam, jadi kupilih yang keriting saja”. Christie
mengusap-usap tanganku meminta maaf.
“hahaha, tak apa Chris. Aku suka sekali”.
“ini akan membuat penampilanmu berbeda, cobalah!”.
Ucap Christie antusias. Aku membuka wig lamaku, merasakan dinginnya
kulit kepala ini yang sudah tak dilindungi dengan rambut-rambut
kesayanganku dulu, hingga kini di alih tugaskan oleh rambut palsu
ditanganku.
“biar kubantu”. Christie memakaikan rambut palsu itu
dengan lembut, memastikan agar nyaman dikenakan padaku, memastikan
bagian tepinya lembut agar tidak menggesek kulitku hingga akhirnya
terjadi iritasi yang disebabkan efek 'ritual' itu.
“Sher, kau cantik”. Ucapnya terpana, saat aku tengah
mengatur rambut ini.
Christie nampak mencari sesuatu, sampai keluar kamarku.
Aku tau ia mencari cermin, agar aku bisa melihat pantulan wajahku
menggunakan rambut palsu ini. Tapi semua cermin yang ada dirumahku
sudah ku simpan diatas loteng sore tadi, sepulangku dari rumah sakit.
Aku takut, aku takut melihat wajahku yang tak terhias mahkota indah
itu lagi.
Christie kembali kekamarku tanpa bertanya padaku
keberadaaan benda yang ia cari itu. Mungkin ia mengerti. Kemudian ia
mengeluarkan handphonenya, mengarahkan bulatan hitam di belakang
benda itu ke arahku, hingga muncullah cahaya blitz yang berasal dari
Handphonenya.
“lihatlah”. Christie menyerahkan Handphonenya. Aku
tertawa kecil melihat wajah baruku di dalam sana. Black curly hair,
kacamata ber-frame Hijau, dan wajah pucat pasi yang tertutup make up
natural.
“tak usah memakai wig itu juga tetap cantik”. Suara
lain mengalihkan kami dari layar tersebut. Aku terdiam, aku tau
Taylor berbohong agar aku tak usah merasa memalukan dengan tanpa
sehelai rambut pun dikepalaku. Mana ada wanita cantik tanpa rambut
yang melindungi kepalanya, Tay.
Ia menghampiri kami, tepatnya dihadapanku. Duduk diatas
kursi lalu menggenggam tanganku, “Sher, maafkan aku. Seharusnya aku
tak memaksamu untuk melakukan 'ritual' itu”.
“aku tak apa, Tay. Aku baik-baik saja, bukankah kau
bilang sendiri, aku tampak terlihat cantik walau tanpa wig, aku
setuju padamu. Thank you”. Ucapku, mencoba mengalihkan pembicaraan
agar ia tak membahas efek dari 'ritual' itu lagi.
“terima kasih? Aku sudah membuatmu seperti ini kau
malah berterima kasih padaku?”. Ucap Taylor terkekeh.
“kau tak membuatku seperti ini, Tay. Semua penderita
kanker yang menjalankan 'ritual' itu juga merasakannya, sama seperti
ku, jadi ini bukan kesalahanmu. Aku berterima kasih padamu untuk
usahamu yang telah mencoba menyembuhkanku sebisamu. Walau pada
akhirnya akan lebih dari ini pun aku tetap tak akan menyalahkanmu,
aku mengerti bahwa penyakitku ini belum ditemukan penawarnya. Jadi
berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”.
Bagaimanapun juga, aku tak mau membiarkan Taylor merasa
dirinya pada posisi bersalah. Karena ini murni kesalahanku, aku yang
tak mau mencoba untuk sembuh, aku yang terlalu putus asa hanya
karena.. hanya karena aku merasa tak ada harapan untuk mendapatkan
cintanya lagi, cinta dari Niall. Yang justru pada hari ini baru ku
ketahui, bahwa ia sama sekali tak memberikan cintanya kepada Demi,
atau kepada siapapun.
Ia masih menyimpan cinta itu didalam hatinya sejak aku
mematahkan hatinya. Kenapa aku baru mengetahuinya? Kenapa aku baru
mengetahui bahwa tak ada seorang gadis yang mengisi harinya saat ini.
Dan kenapa baru sekarang? Disaat aku sudah benar-benar tak ada
harapan untuk hidup, disaat aku tinggal menghitung mundur hari menuju
ajal ku, aku baru mengetahui bahwa selama ini ia masih mencintaiku,
ia memilihku untuk menjadi cinta sejatinya, Kenapa?
“tapi aku tak akan berhenti, Sher. Aku akan terus
mencobanya. Besok pagi, aku akan ke Jepang, hanya tiga hari, aku akan
bertemu para dokter kanker hidung dari berbagai negara, dan aku akan
berkonsultasi pada mereka.”. Ucap Taylor, bangkit dari tempat
duduknya, mengusap lembut rambut palsu baruku.
“dan kau, Christie. Mulai hari ini ku harap kau mau
tinggal disini, untuk mengontrol kondisinya, aku yang akan meminta
izinmu pada Cullen”. Lanjut Taylor.
“ya, Tay. Aku mau, aku akan sangat senang sekali bisa
tinggal disini jika Sherine mengizinkannya”. Ucap Christie seraya
menyudutkan matanya padaku, dengan cepat ku berikan jawabannya dengan
anggukan antusias. Tentu saja, itu artinya aku tak akan sendiri lagi
tinggal dirumah ini walaupun hanya beberapa hari.
“okay, aku akan menemui Cullen. Jaga dia, Chris”.
Akhir Taylor, diakhiri kecupan singkat dikening Christie.
“with my pleasure, Hunny. I love you”.
“I love you too”.
Aku memperhatikan Christie yang mengantar Tay sampai
daun pintu kamarku, menatap punggung kekasihnya itu sampai ia keluar
rumah.
“kau sangat mencintai Taylor?”. Tegurku dalam
diamnya. Christie berbalik dan kembali duduk disampingku, memberikan
senyuman tulus khasnya padaku.
“ya, sama seperti kau mencintai Niall Horan”. Kini
senyumku menghilang perlahan, teringat isi suratnya tadi.
Christie tertawa kecil, menyadari perubahan wajahku ini,
“sudah, sebaiknya kau tidur sekarang”. Ucapnya membantuku
membaringkan tubuhku yang sangat lemah ini. Jiwa kedokterannya muncul
sesaat, bertolak belakang saat Taylor bersamanya tadi.
Christie membenarkan posisi botol infus disamping
ranjangku dan mengatur selang infusnya yang mengirim bahan makanan
untuk masuk kedalam tubuhku. Ya, aku masih menggunakan botol infus,
karena aku terlalu sulit, tidak, tepatnya sangat sakit untuk menelan
makanan bahkan minuman sekalipun untuk kutelan.
“oh ya, Sher. Ini, sudah ku belikan, jangan sampai kau
lupa untuk memakainya jika keluar rumah, terutama saat cuaca panas,
karena tanpa ini kulitmu akan terbakar, mengerti?”. Christie
meletakkan botol tabung putih didalam laci meja ranjangku. Bersamaan
dengan itu, aku melihat benda yang melingkar di jari manisnya. Sebuah
cincin perak bermata berlian berbentuk pita kecil.
“kalian tunangan?”. Tanyaku cukup terkejut. Christie
pun ikut terkejut akan seruanku yang tiba-tiba. Sedikit gugup ia
menjelaskannya.
“maaf, Sher. Ya, Sebenarnya ini rahasia. Taylor tak
mau kau tau, karena ia takut akan menyakitimu”. Jawabnya sedikit
gugup.
“menyakiti?”. Aku menatap tajam matanya kini.
“ia takut membagi kebahagiaannya disaat yang tak
tepat, jadi kami bertunangan secara diam-diam”. Lanjut Christie
yang kini menunduk memutar-mutar cincinnya.
“kau tau? Dengan kalian melakukan hal seperti itulah
yang justru menykitiku, kalian mencoba menutupi kebahagiaan kalian
dibelakangku. Aku kecewa, Chris”. Aku mengalihkan pandanganku
darinya, bukankah ia tau bahwa aku tak mau merasa dibebankan oleh
orang lain.
“maafkan kami, Sher”. Christie meraih lembut pipiku,
seolah memintaku untuk kembali menatapnya.
“jangan melakukan hal ini lagi”.
“aku janji!”. Akhirnya, sebelum menyelimutiku.
|Flash back Off|
Sebuah bayangan hitam muncul di balik tirai jendela
kamarku, siluet seorang wanita dengan rambut kuncir kuda yang aku tau
itu Christie. Aku tak memakai alat itu, mungkin ia sudah mengetuk
pintu rumahku dari tadi, namun lagi-lagi aku tak mendengarnya.
Christie nampak terkejut didapatinya aku tanpa wig
membuka tirai jendela. Christie melihat kanan dan kirinya juga
jendela dibelakangnya yang tertutup penuh tirai tebal, memastikan tak
ada yang melihatku. Ia memegang telingnya lalu menengadahkan
tangannya, mengisyaratkan bahwa ia bertanya dimana hearing aid itu.
Namun aku hanya menunduk lalu menutup tirai itu kembali, pergi ke
ruang tamu untuk membuka pintu yang ku kunci tadi.
Christie menggantung mantelnya setelah mengunci kembali
pintu itu, ia bertanya padaku siapa pemilik mantel yang tergantung
tepat disamping mantelnya, namun lagi-lagi aku hanya diam. Ia
terkejut mungkin melihat pipiku yang dibanjiri air mata, ia
mengusapnya lalu membantuku berjalan kekamar, menyandarkan tubuhku di
atas ranjang. Christie mengambil beberapa barang-barang yang kulempar
tadi, dan dengan lembut ia mulai memasang sepasang hearing aid itu di
kedua telingaku.
“kenapa kau menangis?”. Serunya, berhasil masuk ke
telingaku melalui alat itu.
“dan kenapa kacamata ini?”. Ia memakaikan kacamata
berframe hitam ke sepasang mataku, lalu menunjukkan kacamata berframe
hijau kesayanganku yang sudah retak, patah, dan hancur.
Aku melepaskan benda yang melingkar longgar dijari
manisku, lalu memasangkan benda itu ke jari manisnya, “jangan kau
tinggalkan lagi jika kau benar-benar mencintainya”. Ucapku,
sedangkan Christie nampak diam sejenak.
“ohh.. Sher, aku lupa aku meninggalkannya saat aku
mandi tadi. Terima kasih sudah menyimpannya”. Ucap christie yang
kemudian memelukku.
“tidak, aku tidak menyimpannya. Aku memanfaatkannya”.
Ku lepaskan pelukannya. Christie terlihat mencerna sesuatu dalam
kepalanya, ia mengerti apa yang baru saja ku perbuat pada cincinnya
itu.
“mantel itu milik Niall?”. Serunya, seraya menatapku
nanar. Aku tau tatapan ini adalah tatapan seorang dokter kepada
pasiennya, bukan Christie kepada Sherine yang terlihat sedikit manja
seperti biasanya. Aku mengangguk pelan.
“dan kau bilang cincin ini milikmu lalu kau mengatakan
padanya bahwa kau sudah bertunangan dengan kekasihku, begitu?!”.
Christie sedikit meninggikan suaranya, masih menatap nanar mataku.
Aku mengatup rapat bibirku, menggigitnya, menahan air
mata yang memaksa keluar. Aku mengangguk berat padanya, masih tak mau
membiarkan air mata ini keluar lagi dihadapannya.
“kenapa? Kau masih tak mau menangis dihadapan orang
lain? Bahkan dihadapanku. Keluarkan, Sher. Keluarkan! Dengan begitu
aku tau berapa banyak beban yang kau tampung selama ini, berapa
banyak kebohongan yang kau buat selama ini, berapa banyak penyesalan
yang kau rasakan selama ini, dan barapa besarnya rasa cintamu pada
pria itu, Sher! Menangislah!”. Christie lebih dulu mengeluarkan air
matanya, meyeret air mata yang mengumpul di pelupuk mataku agar
keluar sejadi-jadinya.
Aku memeluk erat tubuh Christie, menangis seperti anak
kecil. Aku bisa mendengar tangisanku ini, tangisan yang sama saat aku
selesai mengeluarkan kalimat menyakitkan setahun silam, tangisan
terakhir setelah akhirnya aku memutuskan untuk berjanji pada diriku
sendiri agar tak akan pernah menangis lagi. Tangisan yang sama,
akibat penyesalan karena telah membohonginya. Membohonginya lagi.
'drrrt drrtt.. drrtt drrrt..'.
Christie melepaskan pelukanku, mengambil handphoneku
yang bergetar di atas laci, lalu menyerahkannya padaku, “your
Mom?”. Katanya, membaca panggilan masuk yang tertera dalam layar
iPhoneku.
“halo, Ibu? Ada ap... Ibu kenapa nangis?! .....
Apa?!”.
_Sherine pov End_
~NLS~
_Author pov_
“apa?! Tunangan?”. Niall mengangguk-angguk sambil
mengunyah potongan pizza yang ia lahap. Sedangkan Zayn hanya melongo
mentap Niall penuh keterkejutan.

“siapa yang tunangan, Zayn?”. Seru Mom Trisha saat mengantarkan minuman untuk tamu putranya itu.
“tidak, Aunty. Bukan siapa-siapa”. Jawab Niall yang susah payah menelan pizza itu dimulutnya.
“my pleasure, Aunty”.
Menunggu sampai Momnya hilang dari pandangannya, Zayn
menatap Niall heran, ia begitu santainya setelah mendengar berita
yang menurut Zayn lebih buruk dari pada saat ia mendengar bahwa Niall
dan Sherine mengakhiri hubungan mereka waktu itu.
“Niall, apa kau tak marah? Atau menangis seperti waktu
ia memutuskanmu?”. Tanya Zayn menunggu jatuhnya air dari kelopak
mata pria yang mencintai makanan dihidupnya.
“sudah”. Jawab Niall dengan santainya.
Zayn terkekeh atas jawaban itu, ia mengambil potongan
pizza dari tangan Niall, potongan terakhir yang akan Niall lahap.
Serta tiga bungkus Chips yang akan Niall raih, kemabali Zayn yang
lebih dulu mengammbilnya. Niall mendengus kesal, ia menghabiskan jus
apel yang di berikan Mom Trisha tadi akhirnya. Kemudian menatap Zayn
tajam.
“kau benar, tak seharusnya aku mencintainya dan
berharap kembalinya gadis itu kedalam pelukanku. Dan aku tak akan
lagi sudi menangisi gadis yang sama sekali tak memikirkan perasaanku,
yang dengan mudahnya menyakitiku”. Ucap Niall, memainkan gelas yang
berisi jus yang sudah dihabisinya itu.
“aku mengerti perasaanmu, Niall. Kau benar, untuk apa
kau mencintai gadis yang tak mencintaimu sama sekali. Dan ku harap
setelah ini kau akan benar-benar melupakannya, pastikan bahwa ia tak
akan muncul lagi dihadapanmu. Jika tidak, jangan harap perasaanmu itu
akan hilang”. Ucap Zayn.
“kau bicara seperti kau pernah mengalami apa yang
terjadi padaku, Zayn”. Niall menyunggingkan alisnya, berbalik
menatap heran Zayn.
Zayn ikut menyunggingkan alisnya, ia mencerna apa yang
baru saja ia katakan pada si blonde bermata biru itu. Lalu tersenyum
menggeleng pada Niall. “benarkah?”.
'drrrt..drrtt.. drrtt..drrrt'.
“hallo, Lou?”. Sahut Zayn setelah mengangkat
panggilan itu. Lama ia mendengarkan apa yang diucapkan kerabatnya itu
padanya. Sedangkan Niall hanya memperhatikan mata Zayn yang membulat
akan perkataan Louis yang entah apa dikatakannya pada Zayn.
“tidak usah, Niall bersamaku. Baiklah, kami akan
kesana sekarang juga”. Akhir Zayn sebelum menekan tombol end call
pada BlackBerrynya itu. Sedangkan Niall menunggu Zayn membuka
suaranya, menjelaskan arti dari raut wajah kekhawatirannya itu.
“Louis sudah menelfonmu berkali-kali, tapi handphonemu
sibuk”. Ucap Zayn, sambil memakai varsity hitam putihnya.
“aku meninggalkannya dirumah karena lowbatt”. Jelas
Niall, sesekali menggaruk kepalanya bingung melihat Zayn yang
terburu-buru.
“habiskan pizzamu. Mom, Aku pergi!”.
“Zayn ada apa?”. Tanya Niall, setelah menerima kunci
mobil Zayn dari pria beralis tebal itu.
Zayn menghentikan langkahnya, berbalik menatap Niall,
“aku belum mengatakannya padamu?”. Niall hanya mendengus sebal
akan kata-kata Zayn itu. Apa seperti ini jika Zayn sedang panik?
“okay, Niall. Liam di rumah sakit, kata Lou ginjalnya
bermasalah lagi”.
~NLS~
|To Be
Continued|
NB: Ekhm! maaf sebelumnya, author mau minta maaf kalo
ceritanya ga nyambung, ga jelas, atau aneh, banyak typo dan garing
banget. kayaknya sih gitu_- maafmaafmaaf >.<
DON'T BE SILENT READER!! kalo
reader aku sih ga ada yang diem aja, mereka udah pasti ngasih
feedbacknya apapun itu karena mereka menghargai karya orang ;) SO,
jangan cuma baca aja yawh :) If
you want respect, then respect others!
Don't forget to
send ur feedback! Or visit my twitter account @Fathimah_Haddad
and @FathimHaddad501
for send your comment. Thank's :) Sampe ketemu di part 14 ;)



0 comments:
Post a Comment