Monday, May 6, 2013

#NLS Princess Nose And True Love {Part 13}

Posted by Unknown at 11:22:00 PM


Title: #NLS “Princess Nose And True Love” {Part 13}

Author: 
@Fathimah_Haddad , @FathimHaddad501 aka Syarifah Fathimah AlHaddad

Genre: Romantic

Rating: G (General)

Cast: - @NiallOfficial as Niall Horan
          - @SherineCArifa as Sherine Arifa
          - @OfficialTL as Taylor Lautner
          - @christiemburke as Christie burke
          - And other boys of @OneDiretion {Louis, Zayn, Liam, and Harry}

Cameo: - @ddlovato as Demi Lovato



|Welcome to my Imagination|

Hope you like this guys ;)


~NLS~


_Sherine pov_


Curly?”. Tanyaku tak percaya, melihat sebuah wig di tanganku yang mengingatkanku pada rambut Daniele kekasih Liam. Hanya saja yang ditanganku ini tak terlalu lebat dan berwarna hitam, sehitam rambutku dulu sebelum 'ritual' itu membunuhnya sampai habis.

yup! Lucu tidaak? Maaf, wig yang kau minta tak ada yang berwarna hitam, jadi kupilih yang keriting saja”. Christie mengusap-usap tanganku meminta maaf.

hahaha, tak apa Chris. Aku suka sekali”.

ini akan membuat penampilanmu berbeda, cobalah!”. Ucap Christie antusias. Aku membuka wig lamaku, merasakan dinginnya kulit kepala ini yang sudah tak dilindungi dengan rambut-rambut kesayanganku dulu, hingga kini di alih tugaskan oleh rambut palsu ditanganku.

biar kubantu”. Christie memakaikan rambut palsu itu dengan lembut, memastikan agar nyaman dikenakan padaku, memastikan bagian tepinya lembut agar tidak menggesek kulitku hingga akhirnya terjadi iritasi yang disebabkan efek 'ritual' itu.

Sher, kau cantik”. Ucapnya terpana, saat aku tengah mengatur rambut ini.

Christie nampak mencari sesuatu, sampai keluar kamarku. Aku tau ia mencari cermin, agar aku bisa melihat pantulan wajahku menggunakan rambut palsu ini. Tapi semua cermin yang ada dirumahku sudah ku simpan diatas loteng sore tadi, sepulangku dari rumah sakit. Aku takut, aku takut melihat wajahku yang tak terhias mahkota indah itu lagi.

Christie kembali kekamarku tanpa bertanya padaku keberadaaan benda yang ia cari itu. Mungkin ia mengerti. Kemudian ia mengeluarkan handphonenya, mengarahkan bulatan hitam di belakang benda itu ke arahku, hingga muncullah cahaya blitz yang berasal dari Handphonenya.




 “lihatlah”. Christie menyerahkan Handphonenya. Aku tertawa kecil melihat wajah baruku di dalam sana. Black curly hair, kacamata ber-frame Hijau, dan wajah pucat pasi yang tertutup make up natural.

tak usah memakai wig itu juga tetap cantik”. Suara lain mengalihkan kami dari layar tersebut. Aku terdiam, aku tau Taylor berbohong agar aku tak usah merasa memalukan dengan tanpa sehelai rambut pun dikepalaku. Mana ada wanita cantik tanpa rambut yang melindungi kepalanya, Tay.

Ia menghampiri kami, tepatnya dihadapanku. Duduk diatas kursi lalu menggenggam tanganku, “Sher, maafkan aku. Seharusnya aku tak memaksamu untuk melakukan 'ritual' itu”.

aku tak apa, Tay. Aku baik-baik saja, bukankah kau bilang sendiri, aku tampak terlihat cantik walau tanpa wig, aku setuju padamu. Thank you”. Ucapku, mencoba mengalihkan pembicaraan agar ia tak membahas efek dari 'ritual' itu lagi.

terima kasih? Aku sudah membuatmu seperti ini kau malah berterima kasih padaku?”. Ucap Taylor terkekeh.

kau tak membuatku seperti ini, Tay. Semua penderita kanker yang menjalankan 'ritual' itu juga merasakannya, sama seperti ku, jadi ini bukan kesalahanmu. Aku berterima kasih padamu untuk usahamu yang telah mencoba menyembuhkanku sebisamu. Walau pada akhirnya akan lebih dari ini pun aku tetap tak akan menyalahkanmu, aku mengerti bahwa penyakitku ini belum ditemukan penawarnya. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”.

Bagaimanapun juga, aku tak mau membiarkan Taylor merasa dirinya pada posisi bersalah. Karena ini murni kesalahanku, aku yang tak mau mencoba untuk sembuh, aku yang terlalu putus asa hanya karena.. hanya karena aku merasa tak ada harapan untuk mendapatkan cintanya lagi, cinta dari Niall. Yang justru pada hari ini baru ku ketahui, bahwa ia sama sekali tak memberikan cintanya kepada Demi, atau kepada siapapun.

Ia masih menyimpan cinta itu didalam hatinya sejak aku mematahkan hatinya. Kenapa aku baru mengetahuinya? Kenapa aku baru mengetahui bahwa tak ada seorang gadis yang mengisi harinya saat ini. Dan kenapa baru sekarang? Disaat aku sudah benar-benar tak ada harapan untuk hidup, disaat aku tinggal menghitung mundur hari menuju ajal ku, aku baru mengetahui bahwa selama ini ia masih mencintaiku, ia memilihku untuk menjadi cinta sejatinya, Kenapa?

tapi aku tak akan berhenti, Sher. Aku akan terus mencobanya. Besok pagi, aku akan ke Jepang, hanya tiga hari, aku akan bertemu para dokter kanker hidung dari berbagai negara, dan aku akan berkonsultasi pada mereka.”. Ucap Taylor, bangkit dari tempat duduknya, mengusap lembut rambut palsu baruku.

dan kau, Christie. Mulai hari ini ku harap kau mau tinggal disini, untuk mengontrol kondisinya, aku yang akan meminta izinmu pada Cullen”. Lanjut Taylor.

ya, Tay. Aku mau, aku akan sangat senang sekali bisa tinggal disini jika Sherine mengizinkannya”. Ucap Christie seraya menyudutkan matanya padaku, dengan cepat ku berikan jawabannya dengan anggukan antusias. Tentu saja, itu artinya aku tak akan sendiri lagi tinggal dirumah ini walaupun hanya beberapa hari.

okay, aku akan menemui Cullen. Jaga dia, Chris”. Akhir Taylor, diakhiri kecupan singkat dikening Christie.

with my pleasure, Hunny. I love you”.

I love you too”.

Aku memperhatikan Christie yang mengantar Tay sampai daun pintu kamarku, menatap punggung kekasihnya itu sampai ia keluar rumah.

kau sangat mencintai Taylor?”. Tegurku dalam diamnya. Christie berbalik dan kembali duduk disampingku, memberikan senyuman tulus khasnya padaku.

ya, sama seperti kau mencintai Niall Horan”. Kini senyumku menghilang perlahan, teringat isi suratnya tadi.

Christie tertawa kecil, menyadari perubahan wajahku ini, “sudah, sebaiknya kau tidur sekarang”. Ucapnya membantuku membaringkan tubuhku yang sangat lemah ini. Jiwa kedokterannya muncul sesaat, bertolak belakang saat Taylor bersamanya tadi.

Christie membenarkan posisi botol infus disamping ranjangku dan mengatur selang infusnya yang mengirim bahan makanan untuk masuk kedalam tubuhku. Ya, aku masih menggunakan botol infus, karena aku terlalu sulit, tidak, tepatnya sangat sakit untuk menelan makanan bahkan minuman sekalipun untuk kutelan.

oh ya, Sher. Ini, sudah ku belikan, jangan sampai kau lupa untuk memakainya jika keluar rumah, terutama saat cuaca panas, karena tanpa ini kulitmu akan terbakar, mengerti?”. Christie meletakkan botol tabung putih didalam laci meja ranjangku. Bersamaan dengan itu, aku melihat benda yang melingkar di jari manisnya. Sebuah cincin perak bermata berlian berbentuk pita kecil.

kalian tunangan?”. Tanyaku cukup terkejut. Christie pun ikut terkejut akan seruanku yang tiba-tiba. Sedikit gugup ia menjelaskannya.

maaf, Sher. Ya, Sebenarnya ini rahasia. Taylor tak mau kau tau, karena ia takut akan menyakitimu”. Jawabnya sedikit gugup.

menyakiti?”. Aku menatap tajam matanya kini.

ia takut membagi kebahagiaannya disaat yang tak tepat, jadi kami bertunangan secara diam-diam”. Lanjut Christie yang kini menunduk memutar-mutar cincinnya.

kau tau? Dengan kalian melakukan hal seperti itulah yang justru menykitiku, kalian mencoba menutupi kebahagiaan kalian dibelakangku. Aku kecewa, Chris”. Aku mengalihkan pandanganku darinya, bukankah ia tau bahwa aku tak mau merasa dibebankan oleh orang lain.

maafkan kami, Sher”. Christie meraih lembut pipiku, seolah memintaku untuk kembali menatapnya.

jangan melakukan hal ini lagi”.

aku janji!”. Akhirnya, sebelum menyelimutiku.


|Flash back Off|


Sebuah bayangan hitam muncul di balik tirai jendela kamarku, siluet seorang wanita dengan rambut kuncir kuda yang aku tau itu Christie. Aku tak memakai alat itu, mungkin ia sudah mengetuk pintu rumahku dari tadi, namun lagi-lagi aku tak mendengarnya.

Christie nampak terkejut didapatinya aku tanpa wig membuka tirai jendela. Christie melihat kanan dan kirinya juga jendela dibelakangnya yang tertutup penuh tirai tebal, memastikan tak ada yang melihatku. Ia memegang telingnya lalu menengadahkan tangannya, mengisyaratkan bahwa ia bertanya dimana hearing aid itu. Namun aku hanya menunduk lalu menutup tirai itu kembali, pergi ke ruang tamu untuk membuka pintu yang ku kunci tadi.

Christie menggantung mantelnya setelah mengunci kembali pintu itu, ia bertanya padaku siapa pemilik mantel yang tergantung tepat disamping mantelnya, namun lagi-lagi aku hanya diam. Ia terkejut mungkin melihat pipiku yang dibanjiri air mata, ia mengusapnya lalu membantuku berjalan kekamar, menyandarkan tubuhku di atas ranjang. Christie mengambil beberapa barang-barang yang kulempar tadi, dan dengan lembut ia mulai memasang sepasang hearing aid itu di kedua telingaku.




 “kenapa kau menangis?”. Serunya, berhasil masuk ke telingaku melalui alat itu.

dan kenapa kacamata ini?”. Ia memakaikan kacamata berframe hitam ke sepasang mataku, lalu menunjukkan kacamata berframe hijau kesayanganku yang sudah retak, patah, dan hancur.

Aku melepaskan benda yang melingkar longgar dijari manisku, lalu memasangkan benda itu ke jari manisnya, “jangan kau tinggalkan lagi jika kau benar-benar mencintainya”. Ucapku, sedangkan Christie nampak diam sejenak.

ohh.. Sher, aku lupa aku meninggalkannya saat aku mandi tadi. Terima kasih sudah menyimpannya”. Ucap christie yang kemudian memelukku.

tidak, aku tidak menyimpannya. Aku memanfaatkannya”. Ku lepaskan pelukannya. Christie terlihat mencerna sesuatu dalam kepalanya, ia mengerti apa yang baru saja ku perbuat pada cincinnya itu.

mantel itu milik Niall?”. Serunya, seraya menatapku nanar. Aku tau tatapan ini adalah tatapan seorang dokter kepada pasiennya, bukan Christie kepada Sherine yang terlihat sedikit manja seperti biasanya. Aku mengangguk pelan.

dan kau bilang cincin ini milikmu lalu kau mengatakan padanya bahwa kau sudah bertunangan dengan kekasihku, begitu?!”. Christie sedikit meninggikan suaranya, masih menatap nanar mataku.

Aku mengatup rapat bibirku, menggigitnya, menahan air mata yang memaksa keluar. Aku mengangguk berat padanya, masih tak mau membiarkan air mata ini keluar lagi dihadapannya.

kenapa? Kau masih tak mau menangis dihadapan orang lain? Bahkan dihadapanku. Keluarkan, Sher. Keluarkan! Dengan begitu aku tau berapa banyak beban yang kau tampung selama ini, berapa banyak kebohongan yang kau buat selama ini, berapa banyak penyesalan yang kau rasakan selama ini, dan barapa besarnya rasa cintamu pada pria itu, Sher! Menangislah!”. Christie lebih dulu mengeluarkan air matanya, meyeret air mata yang mengumpul di pelupuk mataku agar keluar sejadi-jadinya.

Aku memeluk erat tubuh Christie, menangis seperti anak kecil. Aku bisa mendengar tangisanku ini, tangisan yang sama saat aku selesai mengeluarkan kalimat menyakitkan setahun silam, tangisan terakhir setelah akhirnya aku memutuskan untuk berjanji pada diriku sendiri agar tak akan pernah menangis lagi. Tangisan yang sama, akibat penyesalan karena telah membohonginya. Membohonginya lagi.

'drrrt drrtt.. drrtt drrrt..'.

Christie melepaskan pelukanku, mengambil handphoneku yang bergetar di atas laci, lalu menyerahkannya padaku, “your Mom?”. Katanya, membaca panggilan masuk yang tertera dalam layar iPhoneku.

halo, Ibu? Ada ap... Ibu kenapa nangis?! ..... Apa?!”.


_Sherine pov End_


~NLS~


_Author pov_


apa?! Tunangan?”. Niall mengangguk-angguk sambil mengunyah potongan pizza yang ia lahap. Sedangkan Zayn hanya melongo mentap Niall penuh keterkejutan.






siapa yang tunangan, Zayn?”. Seru Mom Trisha saat mengantarkan minuman untuk tamu putranya itu.

tidak, Aunty. Bukan siapa-siapa”. Jawab Niall yang susah payah menelan pizza itu dimulutnya.

baiklah, habiskanlah semua makanannya, Niall”.

my pleasure, Aunty”.

Menunggu sampai Momnya hilang dari pandangannya, Zayn menatap Niall heran, ia begitu santainya setelah mendengar berita yang menurut Zayn lebih buruk dari pada saat ia mendengar bahwa Niall dan Sherine mengakhiri hubungan mereka waktu itu.

Niall, apa kau tak marah? Atau menangis seperti waktu ia memutuskanmu?”. Tanya Zayn menunggu jatuhnya air dari kelopak mata pria yang mencintai makanan dihidupnya.

sudah”. Jawab Niall dengan santainya.

Zayn terkekeh atas jawaban itu, ia mengambil potongan pizza dari tangan Niall, potongan terakhir yang akan Niall lahap. Serta tiga bungkus Chips yang akan Niall raih, kemabali Zayn yang lebih dulu mengammbilnya. Niall mendengus kesal, ia menghabiskan jus apel yang di berikan Mom Trisha tadi akhirnya. Kemudian menatap Zayn tajam.

kau benar, tak seharusnya aku mencintainya dan berharap kembalinya gadis itu kedalam pelukanku. Dan aku tak akan lagi sudi menangisi gadis yang sama sekali tak memikirkan perasaanku, yang dengan mudahnya menyakitiku”. Ucap Niall, memainkan gelas yang berisi jus yang sudah dihabisinya itu.

aku mengerti perasaanmu, Niall. Kau benar, untuk apa kau mencintai gadis yang tak mencintaimu sama sekali. Dan ku harap setelah ini kau akan benar-benar melupakannya, pastikan bahwa ia tak akan muncul lagi dihadapanmu. Jika tidak, jangan harap perasaanmu itu akan hilang”. Ucap Zayn.

kau bicara seperti kau pernah mengalami apa yang terjadi padaku, Zayn”. Niall menyunggingkan alisnya, berbalik menatap heran Zayn.

Zayn ikut menyunggingkan alisnya, ia mencerna apa yang baru saja ia katakan pada si blonde bermata biru itu. Lalu tersenyum menggeleng pada Niall. “benarkah?”.

'drrrt..drrtt.. drrtt..drrrt'.

hallo, Lou?”. Sahut Zayn setelah mengangkat panggilan itu. Lama ia mendengarkan apa yang diucapkan kerabatnya itu padanya. Sedangkan Niall hanya memperhatikan mata Zayn yang membulat akan perkataan Louis yang entah apa dikatakannya pada Zayn.

tidak usah, Niall bersamaku. Baiklah, kami akan kesana sekarang juga”. Akhir Zayn sebelum menekan tombol end call pada BlackBerrynya itu. Sedangkan Niall menunggu Zayn membuka suaranya, menjelaskan arti dari raut wajah kekhawatirannya itu.

Louis sudah menelfonmu berkali-kali, tapi handphonemu sibuk”. Ucap Zayn, sambil memakai varsity hitam putihnya.

aku meninggalkannya dirumah karena lowbatt”. Jelas Niall, sesekali menggaruk kepalanya bingung melihat Zayn yang terburu-buru.

habiskan pizzamu. Mom, Aku pergi!”.

Zayn ada apa?”. Tanya Niall, setelah menerima kunci mobil Zayn dari pria beralis tebal itu.

Zayn menghentikan langkahnya, berbalik menatap Niall, “aku belum mengatakannya padamu?”. Niall hanya mendengus sebal akan kata-kata Zayn itu. Apa seperti ini jika Zayn sedang panik?

okay, Niall. Liam di rumah sakit, kata Lou ginjalnya bermasalah lagi”.


~NLS~





|To Be Continued|



NB: Ekhm! maaf sebelumnya, author mau minta maaf kalo ceritanya ga nyambung, ga jelas, atau aneh, banyak typo dan garing banget. kayaknya sih gitu_- maafmaafmaaf >.<



DON'T BE SILENT READER!! kalo reader aku sih ga ada yang diem aja, mereka udah pasti ngasih feedbacknya apapun itu karena mereka menghargai karya orang ;) SO, jangan cuma baca aja yawh :) If you want respect, then respect others!




Don't forget to send ur feedback! Or visit my twitter account @Fathimah_Haddad and @FathimHaddad501 for send your comment. Thank's :) Sampe ketemu di part 14 ;)

0 comments:

Post a Comment

 

My Imagination Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea